Kaitan Cedera Otak Traumatik Ringan dan Reaksi Stres
Mengurai Kaitan Cedera Otak Traumatik Ringan dan Reaksi Stres
Penelitian oleh Hoge dan kawan-kawan pada jurnal ini memberikan profil penting gejala sisa (sequelae) cedera otak traumatik ringan pada anggota militer setelah pertempuran. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa cedera otak traumatik ringan meningkatkan masalah psikologis, kesehatan, dan fungsional. Meskipun penelitian ini memberikan bukti kuat adanya gangguan pada anggota militer yang bertugas di Irak dan Afghanistan, namun juga meningkatkan jumlah pertanyaan penting mengenai gangguan yang mungkin terkait dengan cedera otak traumatik ringan.
Satu temuan mengejutkan dari penelitian ini adalah meskipun cedera otak traumatik ringan memprediksikan adanya sejumlah masalah kesehatan, efeknya menjadi tidak signifikan setelah mempertimbangkan keterlibatan post-traumatic stress disorder (PTSD, gangguan stress pascatrauma) dan depresi. Pola ini selaras dengan penelitian lain dan menekankan bahwa seseorang harus berhati-hati mengaitkan masalah kesehatan dengan cedera otak traumatik ringan, karena bias saja PTSD dan depresi yang menjadi penyebab utamanya. Ini adalah poin penting karena cedera otak traumatik ringan secara khas muncul dalam konteks suatu kejadian trauma, dan stres psikologis mungkin akan berpengaruh pada banyak kasus cedera otak traumatik ringan.
Jika Hoge dan kawan-kawan tidak menilai PTSD dan depresi, kesimpulan yang mungkin didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa cedera otak traumatik ringan adalah penyebab dari gangguan yang ditemukan pada para prajurit. Kesimpulan yang salah paham ini sering timbul dalam kerangka pikir klinis, dan gangguan yang timbul setelah cedera otak traumatik ringan secara salah pahan dikaitkan dengan masalah neurologis, bukannya dikaitkan dengan stres psikologis.
Salah satu ciri klasik dari cedera otak traumatik ringan dan yang dianggap sebagai penyebab gangguan pasca cedera otak traumatik ringan adalah gejala pascakonkusio. Gejala-gejala ini dapat mencakup masalah pada memori, keseimbangan, dan konsentrasi, serta telinga berdenging, sensitif terhadap cahaya atau bunyi, dan mudah marah. Timbul perdebatan sengit mengenai manakah gejala yang disebabkan oleh faktor organik, psikologis, dan akibat interaksi kedua faktor ini. Bukti kuat yang ada sekarang menunjukkan bahwa faktor psikologis memiliki peranan penting pada timbulnya gejala-gejala pascakonkusio; salah satu penelitian terbaru menunjukkan bahwa gejala pascakonkusio terjadi pada jumlah yang sama pada penderita cedera otak traumatik ringan maupun pada pasien yang tidak menderita cedera otak traumatik ringan. Salah kaprah mengaitkan gejala pascakonkusio dengan cedera otak dapat memberikan efek yang tidak menguntungkan, karena akan mengarahkan kita bahwa kesembuhan akan tergantung pada faktor neurologis saja. Bukti yang ada menunjukkan bahwa partisipasi pada program edukasional yang menormalkan reaksi dapat menghilangkan gejala-gejala pascakonkusio. Bukti yang diperoleh Hoge dan kawan-kawan, serta dari penelitian lainnya, bahwa faktor psikologis berperan pada banyak gejala pascakonkusio menunjukkan bahwa intervensi yang lebih efektif mungkin adalah dengan melibatkan program edukasional dalam rencana yang bertujuan untuk mengurangi PTSD dan depresi.
Temuan bahwa cedera otak traumatik ringan berkaitan dengan peningkatan insiden PTSD meningkatkan kemungkinan mengenai bagaimana cedera otak traumatik ringan menimbulkan PTSD. Model biologis mencoba menempatkan mekanisme fundamental yang mendasari PTSD melibatkan respon berlebihan dari amigdala, memicu gangguan regulasi oleh korteks prefrontal medial. Amigdala adalah pusat pengembangan dan ekspresi reaksi ketakutan, dan penelitian pada binatang dan manusia menunjukkan bahwa belajar untuk menghambat reaksi ketakutan ini melibatkan inhibisi oleh korteks refontal medial. Konsisten dengan model ini, pasien dengan PTSD menunjukkan pengurangan aktivasi korteks prefrontal medial saat memproses rasa takut. Cedera otak traumatik ringan seringkali melibatkan kerusakan pada korteks prefrontal akibat adanya tenaga yang mengenai regio frontalis di tengkorak. Mungkin saja kapasitas seseorang untuk mengatur reaksi akan rasa takut menjadi terganggu setelah suatu cedera otak traumatik ringan karena jalinan saraf yang terlibat dalam regulasi rasa takut mengalami kerusakan akibat trauma yang terjadi.
Model kognitif mengajukan bahwa PTSD terjadi saat korban trauma kekurangan daya kognitif untuk mengatasi memori akan traumanya dan untuk mengelola strategi kognitif adaptif untuk mengatasi pengalaman traumatisnya. Cedera otak traumatik ringan dapat mengganggu kemampuan kognitif dan menurunkan kopasitas mengelola strategi kognitif untuk mengatasi akibat dari trauma psikologis. Terdapat banyak bukti bahwa strategi kognitif maladaptif pasca trauma adalah faktor predisposisi dari PTSD. Maka, mungkin saja penderita cedera otak traumatik ringan kekurangan daya kognitif untuk memberikan strategi kognitif yang tepat, yang akan meningkatkan insiden PTSD.
Penelitian terbaru juga menggarisbawahi perlunya definisi operasional yang jelas dari cedera otak traumatik ringan. Penelitian tersebut secara retrospektif menilai cedera otak traumatik ringan dengan menanyakan apakah terdapat kehilangan kesadaran, kebingungan, atau tidak dapat mengingat cedera yang terjadi. Masing-masing rraksi ini dapat dikaitkan dengan respon stres akut. Tidak terdapat definisi yang terpercaya untuk membedakan gejala yang melibatkan gangguan kesadaran yang disebabkan oleh stres berat atau cedera otak traumatik ringan, sehingga diagnosis bandingnya menjadi sulit disingkirkan. Masalah ini ditekankan pada keadaan retrospektif cedera, karena selama mengingat kembali reaksi trauma, orang dengan gangguan psikologis berat akan melebih-lebihkan gejala yang dialami pada fase akutnya dan juga mengenai proses cedera yang terjadi. Lebih disarankan untuk menggunakan pengukuran tervalidasi untuk menilai amnesia pascatrauma segera setelah dicurigai terdapat cedera otak traumatik ringan untuk menilai keadaan gangguan kesadarannya.
Terdapat dua hasil yang sangat penting dari penelitian Hoge dan kawan-kawan. Pertama, prajurit yang menderita cedera otak traumatik ringan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk megalami masalah terkait kesehatannya. Kedua, prajurit seharusnya tidak perlu diyakinkan bahwa mereka menderita cedera otak karena hal tersebut akan menghasilkan perubahan yang permanen. Konflik militer sebelumnya telah mengarahkan pada sindrom-sindrom yang melibatkan susunan gejala-gejala yang spesifik yang terkait kepada beberapa sebab. Setelah perang Teluk pertama, banyak prajurit yang menderita gejala-gejala somatik yang tak terjelaskan (yang disebut sindrom perang Teluk) yang oleh para komentator dikaitkan dengan kemungkinan paparan dengan zat kimia tertentu, meskipun banyak tes gagal menentukan dasar neurologis gejala-gejala tersebut. Jika prajurit yang berperang di Irak dan Afghanistan diberi tahu mengenai sindrom pascakonkusio dan masalah yang pasti timbul akibat cedera otak traumatik ringan, sindrom baru akan diciptakan dari peperangan tersebut dimana para prajurit akan mengaitkan sejumlah reaksi stres yang lazim dijumpai dengan efek dari cedera otak. Hal ini dapat merusak moral dan mengganggu kesehatan mental penderitanya di masa datang, karena akan memicu kurangnya harapan untuk mengalami kesembuhan. Sebaliknya, normalisasi dari banyak gejala-gejala seperti ini dan pemahaman bahwa kondisi yang terkait stres dapat dikelola dengan baik menggunakan strategi berbasis bukti dapat mengurangi pengaitan yang tidak perlu antara reaksi stres yang lazim dijumpai kepada suatu patologi, yang akan memfasilitasi pemulihan setelah cedera otak traumatik ringan.
Translated by Yoseph Leonardo Samodra
Tags: anestesi, army, cacat, otak, saraf, tentara, tugas, war
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.