Pemeriksaan Penunjang untuk PID
Pemeriksaan Penunjang untuk PID
Pemeriksaan yang mungkin tersedia untuk nendiagnosis PID akut memiliki sensitifitas yang rendah. Tes darah seperti hitung leukosit, laju endap darah, dan CRP relatif tidak spesifik. Hasilnya mungkin tinggi pada PID, tepi pada kasus yang ringan dapat normal. Leukositosis sering tidak ditemukan pada infeksi non piogenik.
Tes kehamilan terutama yang mengukur beta HCG serum, perlu dilakukan untuk menyingkirkan kehamilan ektopik dari yang gangguan pada ovarium yang terkait kehamilan intrauterin muda. Tes ini harus dilakukan sebelum menunda terapi antibiotika. Di banyak rumah sakit tes ini tersedia sebagai pemeriksaan kasus darurat. Jika tidak tersedia, tes kehamilan ini sederhana menggunakan urin hampir sama akuratnya.
Tes mikrobiologi
Tes mikrobiologi berikut seharusnya ditawarkan ke semua wanita yang dicurigai menderita PID:
• Hapusan endoserviks untuk kultur gonore (diletakkan pada medium transport Stuarts atau Amies) dan segera diperiksa setelah 6 jam atau selambatnya 24 jam, jika tidak viabilitasnya akan hilang.
• Hapusan endoserviks untuk tes amplifikasi asam nukleat klamidia (kultur klamidia atau tes EIA (enzym linked imunnosorbent assays) memiliki sensitivitas yang rendah, meskipun EIA masih digunakan segara luas).
Deteksi gonore atau klamidia pada serviks meningkatkan kemungkinan PID sebagai penyebab nyeri perut bawah, namun banyak pula wanita dengan PID memberikan hasil negatif saat pemeriksaan traktus genital bagian bawah.
Kurangnya sel polimorfonuklear pada hapusan servikal dengan pewarnaan gram membuat kemungkinan PID tidak terlalu dicurigai, namun keberadaan sal polimorfonuklear tidak spesifik, yaitu tiadanya sel polimorfonuklear memiliki nilai prediksi negatif yang baik dan adanya sel polimorfonuklear memiliki nilai prediktif positif yang buruk untuk PID.
Skrining untuk infeksi menular seksual lainnya harus ditawarkan pada wanita dengan hasil tes positif untuk gonore dan klamidia, dan pada mereka yang memiliki resiko tinggi terkena infeksi. Skrining yang memadai seharusnya mencakup:
• Pemeriksaan mikroskop dan/kultur untuk Trichomonas vaginalis
• Tes antibodi HIV
• Serologi sifilis
Jika dilakukan laparoskopi atau laparotomi maka spesimen dari tuba fallopi seharusnya juga dikirim untuk kultur bakteri, termasuk gonore. Kultur klamidia juga dapat dilakukan untuk sampel ini, namun sensitifitasnya rendah, memerlukan media transport khusus dan tidak tersedia luas.
Pemeriksaan radiologis
Ultrasonografi transvaginal dapat berguna jika terdapat kesulitan menegakkan diagnosis. Tidak ada ciri khusus yang patognomonik untuk PID akut. Cairan bebas di cavum douglasi adalah temuan yang normal dan tidak banyak membantu menyingkirkan kehamilan ektopik, kista ovarium, atau apendisitis, dan dapat pula mengidentifikasi tuba yang terdilatasi atau abses tuba. Baru-baru ini penggunaan power Doppler untuk mendiagnosa tuba yang terdilatasi dan meradang serta massa tuba-ovarian dianggap cukup akurat. Pemeriksaan ini membutuhkan ekspertisi dan mungkin tidak tersedia pada kondisi gawat darurat, sehingga memiliki sangat sedikit manfaat untuk diagnosis rutin PID. MRI dapat membantu menegakkan diagnosis bila diperlukan, namun tidak tersedia luas sehingga tidak termasuk dalam penanganan rutin. CT Scan pada PID akut dapat menunjukkan gambaran jelas bidang fasial pelvis, penipisan bidang ligamen uterosakral, dan akumulasi cairan di tuba dan kanal endometrial. Pada abdomen atas dapat membuktikan perihepatitis. Penggambaran jelas kapsul hepatik dan splenik pada CT Scan abdomonal dianggap khas untuk sindrom Fitz-Hugh-Curtis namun memiliki nilai kecil untuk investigasi rutin
Pemeriksaan bedah
Untuk beberapa tahun laparoskopi dianggap sebagai prosedur diagnostik definitif untuk PID dan kemungkinan tetap lebih sensitif dari pada pemeriksaan lainnya yang tersedia saat ini. Pada banyak kasus akan ditemukan bukti jelas berupa tuba yang terdilatasi dan hiperemi dengan eksudat radang dan fibrinosa menyelubungi tuba dan fundus uteri. Pada kasus ringan peradangan intraluminal tuba dapat terlewatkan dan variasi hasil pengamat antar pemeriksa sering terjadi. Hal ini mengarahkan hapusan sebaiknya diambil dari ujung fimbrial tuba, yang dapat lebih akurat dari hapusan endoserviks, namun manfaat utama laparoskopi adalah untuk menyingkirkan diagnosis lain. Sebagai prosedur yang infasif, laparoskopi digunakan hanya untuk kasus yang memiliki keraguan dalam penegakan diagnosis PID akut atau pada kasus dimana pasien tidak berespon pada antibiotik dalam 48-72 jam.
Tidak terdapat bukti yang mendukung penggunaan rutin histeroskopi atau biopsi endometrial pada diagnosis rutin PID akut. Teknik endoskopi yang paling invasif, seperti falloskopi, berpotensi bahaya dan tidak digunakan dalam penanganan.
(yosephsamodra/pecahan dari order terjemahan)
Tags: ginekologi, health, kandungan, kesehatan, obstetri, PID, sign and symptom, wanita
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.