Adiksi Nikotin

Adiksi Nikotin
Penggunaan daun tembakau untuk menciptakan adiksi nikotin diperkenalkan pada Colombus oleh penduduk asli Amerika dan menyebar dengan cepat ke Eropa. Penggunaaan tembakau sebagai rokok menjadi populer pada abad ke-20 dan sekarang menjadi fenomena modern, berupa berupa epidemi yang disebabkan oleh tembakau dalam bentuk rokok.
Nikotin adalah penyusun utama tembakau yang bertanggung jawab menimbulkan karakter adiktif. Perokok yang mengalami adiksi mengatur asupan dan kadar nikotin dalam darah mereka dengan menyesuaikan frekuensi dan intensitas pemakaian tembakau untuk mendapat efek psikoaktif yang diharapkan dan mencegah gejala putus zat (withdrawal).
Tembakau mengandung nikotin, karsinogen dan toksin lain yang dapat menyebabkan gangguan pada gusi , kanker mulut dan kemungkinan akan sedikit meningkatkan resiko penyakit jantung. Saat tembakau dibakar, asap yang dihasilkan selain mengandung nikotin juga mengandung 4000 senyawa lainnya yang dihasilkan dari proses volatilisasi, pirolisis, dan pirosintesis dari tembakau maupun berbagai zat kimia tambahan yang digunakan untuk membuat produk olahan tembakau. Asap tersusun atas aerosol halus dan komponen uap (fase vapor), partikel yang teraerosolisasi memiliki rentang ukuran partikel yang menghasilkan deposit pada jalan napas dan permukaan alveolar paru. Bagian terbesar yang bertanggung jawab terhadap toksisitas dan karsinogenisitas terletak pada bagian partikel yang teraerosolisasi, yang mengandung jumlah besar zat toksik dan senyawa karsinogenik. Agregat partikulat, di luar nikotin dan kelembaban disebut tar. Komponen uap mengandung karbon monoksida, iritan pernafasan, dan siliotoksin serta berbagai senyawa yang menghasilkan bau rokok yang khas.
pH basa dari asap tembakau pipa dan cerutu memungkinkan absorbsi nikotin yang cukup melalui mukosa oral untuk memuaskan keinginan perokok. Sehingga pengguna pipa tembakau dan cerutu cenderung untuk tidak menghisap asap hingga paru-paru, menghasilkan paparan toksik dan karsinogenik (sehingga meningkatkan jumlah penyakit) terutama pada jalan napas atas untuk kebanyakan pengguna. pH asam dari tembakau yang digunakan di rokok secara dramatis mengurangi absorpsi nikotin di mulut, mengharuskan inhalasi asap ke permukaan paru yang lebih luas untuk mengabsorbsi cukup nikotin untuk memuaskan adiksi perokok. Pergeseran penggunaan tembakau sebagai rokok dengan peningkatan penimbunan asap di paru, telah menimbulkan epidemi penyakit jantung, penyakit paru dan kanker paru yang mendominasi manifestasi penyakit akibat penggunaan tembakau.
Beberapa gen telah dikaitkan dengan adiksi nikotin. Beberapa menurunkan clearance nikotin, dan yang lainnya dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan menjadi ketergantungan tembakau dan zat lain sekaligus menimbulkan peningkatan insiden depresi. Tampaknya bukan hanya genetik yang merupakan determinan utama adiksi. Terdapat peningkatan jumlah pengurangan merokok dan tingkat adiksi nikotin telah berkurang drastis sejak pertengahan 1950-an menunjukkan bahwa faktor selain genetik juga penting. Tampaknya kerentanan genetik dapat mempengaruhi kemungkinan coba-coba menggunakan tembakau pada usia remaja yang akan mengarah pada adiksi nikotin saat dewasa.
Prevalensi merokok dewasa telah berkurang sekitar 20% di AS dengan penurunan serupa di Canada dan kebanyakan negara Eropa. Prevalensi merokok pria menurun namun tetap tinggi di kebanyakan negara Asia, dengan peningkatan prevalensi merokok pada wanita. Tingkat tertinggi jumlah perokok dan tingkat terendah penurunan jumlah perokok ditemukan di negara-negara bekas blok Soviet. Perhatian khusus perlu diberikan pada peningkatan jumlah perokok yang ditemukan di negara-negara berkembang, diharapkan peraturan WHO baru mengenai pengontrolan tembakau akan mendorong kontrol tembakau yang efektif di negara-negara ini untuk mencegah epidemi penyakit terkait tembakau di masa depan.

MANIFESTASI PENYAKIT AKIBAT MEROKOK
Lebih dari 400.000 orang mati dini tiap tahun di AS akibat penggunaan rokok; ini mewakili sekitar 1 dari 5 kematian di AS. Sekitar 40% dari perokok akan mati dini karena merokok kecuali mereka mampu berhenti merokok.
Rasio jumlah penyakit terkait merokok pada perokok dibandingkan yang tidak pernah merokok (resiko relatif) lebih besar pada usia muda, terutama penyakit arteri koroner dan stroke. Pada usia tua, jumlah penyakit pada bukan perokok meningkat, mengaburkan kontribusi merokok dan resiko relatif, namun jumlah kelebihan absolute dari mortalitas yang ditemukan pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok meningkat sesuai usia. Kerusakan organ yang disebabkan oleh merokok dan jumlah perokok yang mati akibat merokok sama-sama lebih banyak pada usia lanjut, sebagaimana akibat dari cedera kumulatif.

PENYAKIT KARDIOVASKULAR
Perokok lebih cenderung terkena aterosklerosis pembuluh darah besar dan penyakit pembuluh darah kecil disbanding bukan perokok. Kira-kira 90% penyakit pembuluh darah tepi pada populasi nondiabetik dapat dikaitkan dengan merokok. Sebagai bandingan, 20-30% penyakit koroner dan sekitar 10% penyakit serebrovaskuler oklusif disebabkan oleh merokok. Terdapat interaksi ganda antara merokok dan faktor resiko kardiak lain seperti peningkatan resiko yang dihasilkan oleh merokok pada penderita hipertensi atau yang memiliki peningkatan kadar lipid serum lebih tinggi dibanding peningkatan resiko yang dihasikan oleh merokok pada individu tanpa faktor resiko ini.
Sebagai tambahan pada peranannya dalam memicu aterosklerosis, merokok juga meningkatkan kecenderungan infark miokard dan kematian jantung mendadak dengan memicu agregasi platelet dan oklusi vaskular. Reversal dari efek ini dapat menjelaskan efek cepat dari berhenti merokok pada suatu kejadian koroner baru yang bisa dilihat pada mereka yang bisa bertahan dari infark miokard pertama. Efek ini dapat pula menjelaskan terdapatnya jumlah yang lebih tinggi kejadian oklusi graft pada perokok yang tidak berhenti merokok setelah suatu operasi bypass.
Penghentian merokok mengurangi resiko kejadian koroner yang kedua dalam 6-12 bulan; jumlah infark miokard pertama atau kematian karena penyakit jantung koroner juga berkurang dalam tahunpertama setelah berhenti merokok. Setelah 15 tahun berhenti merokok, resiko infark miokard atau kematian akibat penyakit jantung koroner menjadi sama seperti pada mereka yang tidak pernah merokok.

KANKER
Merokok tembakau menyebabkan kanker paru, mulut, naso-, oro-, dan hipofaring, kavitas nasalis dan sinus paranasal, laring, esophagus, lambung, pankreas, hepar, ginjal, ureter, kandung kencing, dan serviks uteri, serta leukemia myeloid. Terdapat bukti bahwa merokok dapat memainkan peranan dalam meningkatkan resiko kanker kolorektal dan kanker payudara postmenopause. Hal ini tidak tampak sebagai hubungan sebab akibat antara merokok dan kanker endometrium, dan terdapat terdapat resiko kanker rahim yang lebih rendah pada wanita postmenopause yang merokok. Resiko kanker meningkat dengan peningkatan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari serta peningkatan durasi merokok. Sebagai tambahan, terdapat interaksi sinergistik antara merokok dan penggunaan alkohol untuk resiko kanker mulut, esophagus, dan mungkin juga kanker paru-paru. Beberapa paparan di tempat kerja juga meningkatkan secara sinergis resiko kanker paru di antara perokok, terutama paparan asbes dan radon.
Penghentian merokok mengurangi resiko perkembangan kanker relatif dibandingkan orang yang terus merokok, namun bahkan setelah 20 tahun setelah berhenti merokok masih terdapat peningkatan resiko perkembangan kanker paru.

PENYAKIT PERNAFASAN
Merokok bertanggung jawab atas 90% penyakit paru obstuktif kronik (COPD). Dalam 1-2 tahun awal merokok secara regular, banyak perokok muda mengalami peradangan pada jalan nafas kecilnya, meskipun pengukuran fungsi paru dari perubahan ini tidak memprediksikan pengembangan obstruksi kronis. Setelah 20 tahun merokok, timbul perubahan patofisiologis di paru dan berkembang lanjut secara proporsional sesuai intensitas dan durasi merokok. Hyperplasia mukosa kronik pada jalan nafas besar menghasilkan batuk pada 80% perokok di atas 60 tahun. Inflamasi kronik dan penyempitan jalan nafas kecil dan/atau pencernaan enzimatik dinding alveolar menghasilkan emfisema paru dapat menghasilkan pengurangan aliran udara ekspirasi sehingga timbul gejala klinik keterbatasan pernafasan pada sekitar 15% perokok.
Perubahan jalan nafas kecil pada perokok muda akan pulih setelah 1-2 tahun berhenti merokok. Juga terdapat sedikit peningkatan pada pengukuran aliran udara ekspirasi pada individu yang menderita obstruksi jalan nafas kronik, namun perubahan utama yang menyertai penghentian merokok adalah perlambatan penurunan fungsi paru sesuai usia daripada pemulihan menuju fungsi normal paru.

KEHAMILAN
Merokok dikaitkan dengan beberapa komplikasi maternal dari kehamilan: ketuban pecah dini, abruptio plasenta, dan plasenta previa; juga terdapat sedikit peningkatan pada resiko abortus spontan pada perokok. Bayi dari ibu perokok akan cenderung lahir prematur, memiliki mortilitas perinatal yang lebih tinggi, berat badan kurang sesuai masa kehamilan, dan mudah terkena sindrom gawat nafas (respiratory distress syndrome); cenderung mati akibat sudden infant death syndrome, dan akan mengalami kesulitan pada perkembangan pada tahun-tahun awal kehidupannya.

KONDISI LAIN
Merokok menghambat penyembuhan ulkus peptikum; meningkatkan resiko osteoporosis, katarak senilis, dan degenerasi makular; dan menyebabkan menopause prematur, kulit berkerut, batu empedu dan kolesistitis pada wanita, serta impotensi pada pria.

MEROKOK DARI LINGKUNGAN
Paparan jangka panjang dari asap rokok yang ada di lingkungan meningkatkan resiko kanker paru dan penyakit arteri koroner pada orang yang tidak benar-benar merokok. Juga akan meningkatkan insiden infeksi pernafasan, otitis media kronis, dan asma pada anak, sekaligus dapat memperparah asma pada anak.

INTERAKSI FARMAKOLOGIS
Merokok dapat berinteraksi dengan bermacam obat. Merokok menginduksi sistem sitokrom P450, yang mengubah clearance obat misalnya teofilin. Hal ini akan menyebabkan kadar serum yang tidak adekuat pada perokok jika dosis yang diberikan saat rawat jalan adalah dosis untuk orang yang tidak merokok. Sehingga, ketika pasien rawat inap dan terpaksa berhenti merokok maka kadar serumnya akan meningkat. Perokok juga akan memiliki clearance yang meningkat untuk obat misalnya lidocain, dan efek stimulan dari nikotin dapat mengurangi efek bonzodiazepin atau beta blockers.

BENTUK LAIN DARI PENGGUNAAN TEMBAKAU
Bentuk lain penggunaan tembakau adalah diletakkan di antara gusi dan pipi, dikunyah, menggunakan pipa dan cerutu, bidi (tembakau dibungkus daun temburni atau daun tendu; terutama di India), rokok cengkeh, dan pipa air. Penggunaan tembakau oral memicu penyakit gusi dan dapat menyebabkan kanker mulut. Semua bentuk pembakaran tembakau menghasilkan asap yang mengandung toksin dan karsinogen sama seperti pada rokok. Perbedaan konsekuensi penyakit yang ditimbulkan lebih terkait pada frekuensi penggunaan dan kedalaman inhalasi asap. Resiko kanker jalan nafas atas sama tingginya baik pada perokok maupun pengguna cerutu, namun bagi mereka yang hanya menghisap cerutu akan memiliki resiko yang lebih rendah untuk kanker paru, penyakit jantung, dan COPD. Namun, perokok yang berganti menghisap cerutu atau pipa akan menghisap asapnya dalam-dalam dan akan meningkatkan resikonya; sehingga hasil penyakit yang ditimbulkannya lebih tergantung pada kedalaman inhalasi dan frekuensi paparannya.
Penggunaan tembakau dalam bentuk selain rokok pada remaja telah memicu perhatian bahwa penggunaan tembakau dalam bentuk yang lebih kuno inipun telah menyebabkan masalah kesehatan masyarakat.

ROKOK DENGAN TAR DAN NIKOTIN RENDAH
Rokok filter dengan kadar tar dan nikotin rendah bila diukur dengan mesin telah disarankan dapat menurunkan resiko penyakit. Namun, umumnya rokok jenis ini menggunakan lubang ventilasi pada filternya dan cara lain untuk mengelabuhi pengukuran oleh mesin. Perokok dapat mengkompensasi dan mempertahankan asupan nikotin dan tar dengan merubah cara menghisap rokok dan merubah jumlah batang rokok yang dihisap tiap harinya. Tidak terdapat manfaat pengurangan penyakit untuk para perokok yang beralih ke rokok rendah tar dan nikotin ini, dan perokok harus diberitahu bahwa beralih mengonsumsi rokok rendah tar dan nikotin bukanlah alternatif dari berhenti merokok.

BERHENTI MEROKOK
Proses berhenti merokok seringkali bersifat siklik, dimana perokok seringkali berusaha beberapa kali untuk berhenti namun gagal sebelum berhasil berhenti. Sekitar 70-80% perokok ingin berhenti merokok, sekitar sepertiga dari jumlah perokok sekarang berusaha untuk berhenti tiap tahun, dan 90% dari mereka yang berusaha berhenti tanpa pembimbing akan gagal untuk berhenti merokok. Intervensi merokok berbasis dokter harus mendukung perokok untuk mencoba berhenti dan mencoba pembimbingan berhenti merokok setiap kali perokok ingin berhenti merokok daripada memaksakan penghentian merokok segera saat kunjungan pertama pasien.
Saran dari dokter untuk berhenti merokok, terutama berkaitan dengan sakit akut, adalah pemicu ampuh untuk usaha berhenti merokok, dimana setengah pasien yang disarankan berhenti merokok akan mencoba untuk berhenti merokok. Pemicu lainnya adalah harga rokok, kampanye di media, dan peraturan pembatasan merokok di tempat kerja.

PENCEGAHAN
Sekitar 90% individu yang akan menjadi perokok memulai kebiasaan merokoknya pada masa remaja. Faktor yang meningkatkan inisiasi pada masa remaja adalah contoh merokok dari generasi yang lebih tua, iklan dan promosi rokok, ketersediaan rokok, dan penerimaan sosial untuk merokok. Kebutuhan meningkatkan citra diri dan meniru perilaku orang dewasa adalah yang terpenting untuk remaja yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, yang dapat menjelaskan sebagian perbedaan yang ada pada prevalensi merokok kaum muda berdasarkan tingkat sosial-ekonomi dan prestasi mereka di sekolah.
Pencegahan inisiasi merokok harus dimulai secepat mungkin, lebih baik pada saat usia sekolah dasar. Dokter yang merawat remaja harus sensitif terhadap prevalensi inisiasi merokok ini. Dokter seharusnya menanyakan pada semua remaja apakah mereka telah mencoba-coba tembakau atau sedang menggunakan tembakau, menekankan fakta bahwa kebanyakan remaja dan orang dewasa tidak merokok, dan menjelaskan bahwa semua jenis tembakau adalah adiktif dan berbahaya.
(translated by yosephsamodra/dari order terjemahan)

Explore posts in the same categories: health

Tags: , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Comment: