Abstrak Epilepsi ONE
Efektivitas dan tolerabilitas topiramate sebagai terapi tambahan (add-on) utama pada epilepsi.
Gunther Schumann, Reinhard Both, Andreas Schreiner
Tujuan: tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan topiramate (TPM) sebagai terapi tambahan utama, yaitu saat obat antiepilepsi gagal karena kurangnya efektivitas, tolerabilitas, atau keduanya.
Metode: Penelitian ini adalah analisis sementara dari penelitian observasional open-label multicenter prospektif. Pasien dengan epilepsi yang berusia di atas 12 tahun yang telah gagal ditangani dengan obat antiepilepsi karena kurangnya efektivitas dan/atau tolerabilitas dapat mengikuti penelitian ini. Pasien dievaluasi saat mulai mengikuti penelitian ini dan setelah 6, 16 dan 30 minggu. Dosis TPM dan obat antiepilepsi sebelumnya dapat disesuaikan untuk perorangan. Frekuensi serangan kejang dan efek samping dinilai pada setiap kunjungan.
Hasil: Lima puluh dua pasien (48% pria, usia rata-rata 45 ± 15 tahun) mengikuti penelitian ini. 67% menderita epilepsi parsial, 29 menderita epilepsi generalized, 4% tidak terklasifikasikan. Median periode observasi adalah 30,8 minggu. Pasien terutama sebelumnya menggunakan carbamazepine (58%), asam valproat (25%), atau phenytoin (19%). Alasan penggunaan TPM adalah kurangnya efektivitas (92%) dan kurangnya tolerabilitas (10%). Pada akhir penelitian, median dosis TPM adalah 125 mg/hari. 47% pasien menerima ≤ 100 mg TPM/hari dan 41% antara 100 dan 200 mg TPM/hari. Pada 35% pasien obat antiepilepsinya dapat dihentikan secara permanen.
Frekuensi serangan rata-rata berkurang dari 8,4 per bulan menjadi 1,8 per bulan (p 50%. Diantaranya terdapat satu pasien yang penurunannya hanya berlangsung sementara selama 2 bulan. Penurunan frekuensi serangan pada pasien-pasien ini berhubungan dengan perbaikan siklus tidur-terjaga. Tidak terdapat efek samping serius dan tidak terdapat kelainan pada hasil laboratorium termsuk fungsi ginjal dan hati. Tiga pasien menunjukkan somnolen pada pagi atau siang hari.
Melatonin dosis tinggi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan alternatif untuk epilepsi yang sangat sulit ditangani, karena 42% pasien berespon parsial setelah pemberian melatonin dan tidak ditemukan efek samping yang bermakna. Pasien dengan siklus tidur-terjaga abnormal adalah calon tepat untuk terapi tambahan dengan melatonin. Bagaimanapun, habituasi efek antikonvulsif adalah efek buruk yang bermakna. Penelitian double blind controlled diperlukan untuk evaluasi lanjut.
–
Laporan kasus penggunaan tersamar fenobarbital pada pasien yang menggunakan Diankexing dan Diankening, obat tradisional untuk epilepsi.
Khean Jin Goh, Wee Tah Ma, Mustafa Ali Mohd, Chong Tin Tan
Ini adalah laporan dari tiga pasien dengan epilepsi drug resistant, yang memperoleh Diankexing dan Diankening, obat tradisional untuk epilepsi dari tabib tradisional Chinese. Analisis obat dari ketiga pasein menunjukkan bahwa Diankexing mengandung fenobarnital, dan Diankening dari satu pasien. Satu pasien mengalami keracunan fenobarbital yang jelas, dan dua lainnya menunjukkan efek samping fenobarbital. Dokter harus berhati-hati pada kemungkinan penyalahgunaan obat antiepilepsi yang dicampurkan pada obat tradisional, dengan kemungkinan timbulnya efek samping dan interaksi obat.
–
Dua langkah terapi ACTH perorangan untuk sindrom West.
K Imai, H Ueda, K Yanagihara, T Matsuoka, Y Suzuki, T Nagai, K Ozono
Tujuan: Untuk mengurangi efek samping ACTH pada responder yang baik dan mencapai efek terapi maksimum pada responder yang kurang baik, kami memperkenalkan regimen terapi yang baru dari dua langkah terapi ACTH perorangan untuk sindrom West (WS).
Metode: Ini adalah penelitian multi-center prospektif, antara Desember 1996 hingga Januari 2000. 20 bayi yang baru didiagnosa WS, kriptogenik (4), simtomatik (16), yang gagal berespon pada vitamin B6 dosis tinggi dan zonisamide mengikuti penelitian ini.kortikotropin sintetik (ACTH-Z 0,025 mg/kg/dosis, max 0,25 mg) pertama-tama diberikan intramuskular selang sehari selama tujuh kali dalam 14 hari. Responder yang kurang baik dengan spasme epileptik menetap mendapatkan terapi ACTh tambahan tiap hari selama 1-2 minggu diikuti oleh tapering. Serangan dan hasil EEG, yaitu tidak adanya spasme epileptik, hypsarrythmia dan efek samping diamati hingga sebulan setelah selesai pemberian ACTH.
Hasil: Setelah langkah pertama terapi ACTH, spasme epileptik menghilang pada 50% bayi, WS kriptogenik pada 50% bayi, WS simtomatik pada 50% bayi. Hypsarrythmia menghilang pada 59% bayi, WS kriptogenik pada 50% bayyi, WS simtomatik pada 62% bayi. Hanya efek samping yang jarang dan sedang yang diobservasi. 9 dari 10 pasien yang masih mengalami spasme epileptik mendapatkan langkah kedua terapi ACTH. Spasme epileptik menghilang pada 33% bayi, WS kriptogenik pada 50% bayi, WS simtomatik pada 29% bayi. Hypsarrythmia menghilang pada 43% bayi, Ws kriptogenik pada 50% bayi, WS simtomatik pada 40% bayi. Terdapat lebih banyak efek samping dibandingkan dengan langkah pertama.
Mengombinasikan kedua langkah terapi ACTH, spasme epileptik menghilang pada 65% bayi, WS kriptogenik pada 75% bayi, WS simtomatik pada 63% bayi. Hypsarrythmia menghilang pada 76% bayi, WS kriptogenmik pada 75% bayi, WS simtomatik pada 77% bayi.
Kesimpulan: Efektivitas dua langkah terapi ACTH perorangan mirip dengan laporan sebelumnya dari terapi ACTH konvensional. Individualisasi terapi ACTH mengacu padarespon terhadap terapi menghasilkan durasi yang lebih singkat dan efek samping yang lebih sedikit pada responder yang baik, serta efek terapi maksimum pada responder yang kurang baik.
–
Perawatan spasme infantil dengan vigabatrin: Pengalaman 8 tahun pada anak-anak Thai di sebuah rumah sakit rujukan.
A Visudtibhan, R Mutharai, S Chiemchanya, P Visudhiphan
Latar belakang dan Tujuan: Spasme infantil adalah satu dari sindrom epileptik yang sulit ditangani yang timbul pada bayi dan anak < 2 tahun yang refrakter terhadap hampir semua jenis obat antiepilepsi. ACTH dan vigabatrin adalah obat utama pada perawatan serangan. Bagaimanapun, efek samping dari vigabatrin, yaitu kerusakan permanen lapang pandang, menarik perhatian para ahli kesehatan anak untuk menggunakannya sebagai lini pertama. Di Thailand, ACTH tidak tersedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hasil akhir bayi dan anak dengan diagnosa spasme infantil yang dirawat dengan vigabatrin.
Metode: Ini adalah review retrospektif dari rekam medik pasien yang menderita spasme infantil dan dirawat dengan vigabatrin pada Ramathibodi Hospital dari 1 Januari 1996 hingga 31 Desember 2002. Data yang terkumpul mencakup etiologi, durasi penghentian spasme infantil, dosis vigabatrin, antiepilepsi yang menyertai, kekambuhan serangan, hasil perkembangan dan pemeriksaan oftalmologis.
Hasil: Selama masa penelitian, terdapat 57 bayi dan anak yang menderita spasme infantil. 46 pasien dirawat dengan vigabatrin. Dosis maksimum berkisar antara 43 hingga 150 mg/kg/hari (rata-rata 112 mg/kg/hari, median 120 mg/kg/hari). Sebelum pemberian vigabatrin, 33 pasien menerima antiepilepsi lain dengan ataupun tanpa glukokortikoid. Usia awitan spasme infantil berkisar antara 7 hari hingga 19 bulan. Durasi follow-up berkisar antara 1 hingga 95 bulan. Berhentinya spasme infantil ditemukan pada 35 pasien (76%). Diantara yang berespon pada vigabatrin, durasi median dari mulai terapi hingga penghentian spasme adalah 38 hari. 19 pasien bebas dari serangan hingga laporan ini dibuat. Pemeriksaan oftalmologis dilakukan pada 26 pasien yang memberikan hasil normal pada 20 pasien dan kebutaan kortikal pada 6 lainnya, yang tidak terkait dengan penggunaan vigabatrin. Perkembangan normal terdapat pada 10 pasien (21%).
Diskusi dan kesimpulan: ACTH dan kortikosteroid adalah obat utama pada penanganan spasme infantil sejak 1958. Vigabatrin digunakan sebagai obat lini pertama di negara-negara Eropa sejak 1990. Antiepilepsi seperti asam valproat, benzodiazepines, lamotrigine, dan topiramate juga efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan awal dari vigabatrin memberikan hasil jangka panjang dan kontrol terhadap serangan yang memuaskan, dengan 41% bebas serangan, 21% memiliki perkembangan normal, dan tidak terdapat efek samping yang serius. Jadi, vigabatrin efektif untuk spasme infantil, dan menjadi terapi pilihan pada negara seperti Thailand dimana tidak tersedia ACTH.
–
Penelitian komparatif frekuensi serangan dan perubahan neuroimaging pada pasien dengan neurocysticercosis dengan dan tanpa terapi albendazole.
K Das, S Basu, GP Mondal, BB Mukherjee, KK Dey, B Mukherjee
Tujuan: neurocysticercosis adalah penyebab yang lazim dari epilepsi didapat pada negara-negara berkembang. Di India, 5,3-11% pasien dengan epilepsi menderita neurocysticercosis. Peranan terapi antiparasit albendazole masih kontroversial karena kurangnya penelitian yang terkontrol dengan adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai peranan terapi albendazole pada pasien neurocysticercosis dengan dua lesi atau lebih untuk mencapai status bebas serangan dan pemulihan lengkap lesinya.
Metode: ini adalah penelitian kohort retrospektif-prospektif dari Januari 1997 hingga Januari 2004 melibatkan 120 pasien neurocysticercosis denganlebih dari satu lesi pada hasil contrast CT atau MRI pada otak. Pasien memiliki riwayat serangan selama dua minggu penelitian. Kriteria eksklusi adalah serangan kejang primer, riwayat serangan pada keluarga, gangguan neurologis fokal yang sudah ada sebelumnya, penyakit turunan maupun metabolik apapun.
Pasien dibagi dalam dua grup. Grup A (n=60) mendapatkan albendazol 15 mg/kg/hari selama 14 hari, dexamethasone 2 mg setiap 8 jam selama 14 hari lalu di tapering off, dan antiepilepsi dengan dosis yang wajar. Grup B (n=60) hanya menerima antiepilepsi (kontrol). Tiap pasien difollow up setiap bulan untuk 6 bulan pertama dan tiap 3 bulan untuk 4 tahun berikutnya. Hasil diukur dari timbulnya serangan, ensefalopati (timbulnya sakit kepala, muntah, dan gangguan sensori), rawat inap ulang di rumah sakit, kematian, dan pulihnya lesi pada hasil CT otak saat follow up.
Hasil: Grup albendazole terdiri atas 32 pria dan 28 wanita, usia rata-rata 28 ± 2 tahun. Grup kontrol terdiri atas 34 pria, 26 wanita dengan usia rata-rata 30 ± 2 tahun. Tabel 1 menunjukkan hasil klinis dan imaging dari 3 bulan hingga 4 tahun. Pada 3 bulan pertama, terdapat peningkatan serangan, ensefalopati, dan rawat inap ulang pada pasien yang dirawat dengan albendazole. 2 pasien dari grup A berhenti karena serangan dan ensefalopati yang sulit ditangani. Serangan dan rawat inap ulang terus bertambah pada grup A pada 6 bulan.
Diskusi dan kesimpulan: Peranan albendazole pada neurocysticercosis untuk pulihnya lesi dan kontrol serangan masih kontroversial selama lebih dari 20 tahun. Percobaan terkontrol terbuka pada 1995 menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara grup albendazole dan kontrol pada serangan dan perubahan rasiologis kista. Percobaan terbaru bagaimanapun, menunjukkan bahwa albendazol menurunkan beban parasit dan mengurangi jumlah serangan. Penelitian kemi menunjukkan peningkatan serangan, ensefalopati dan rawat inap ulang pada pasien yang dirawat dengan albendazole. Peradangan perilesional akut dan edema akibat paparan terhadap antigen parasit saat obat bekerja pada kista adalah salah satu mekanisme yang mungkin terjadi. Tidak ditemukan bukti adanya keuntungan jangka panjang penggunaan albendazole berdasarkan evaluasi klinis dan imaging.
–
Monitoring obat menggunakan Rapid High Performance Liquid Chromatographic untuk penentuan simultan obat antiepilepsi multipel pada serum manusia: Analisis 45 pasien pada sebuah kamp epilepsi.
VV Nadkarni, SS Dalvi, SD Khare
Latar belakang dan Tujuan: Monitoring obat (therapeutic drug monitoring, TDM) penting dilakukan untuk menilai toksisitas, compliance, dan titrasi dosis pada epilepsi kronik yang tidak terkontrol. Kebanyakan dari pasien di India tidak mampu mempergunakan TDM karena mahalnya biaya metode Fluorescence Polarization Immuno assay (INR 600 tiap tes, INR 45 = USD 1). Metode Rapid High Performance Liquid Chromatographic (HPLC) berbiaya lebih murah (INR 50 tiap tes), dan dapat dilakukan dengan cepat dengan persiapan sampel dan waktu analisis sekitar 23 menit untuk 5 obat antiepilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan penerapan Rapid HPLC diantara peserta sebuah kamp epilepsi.
Metode: 45 pasien yang mengikuti kamp epilepsi dimana diberikan obat antiepilepsi secara cuma-cuma diikutsertakan dalam penelitian ini. TDM dari fenitoin (PHT), valproat (VPA), carbamazepine (CBZ), lamotrigine, dan fenobarbital dilakukan dengan metode Rapid HPLC. Serum dikumpulkan saat pagi hari jam 11 sesaat sebelum dosis berikutnya. Kadar plasma dikategorika sebagai Terapetik: 10-20 mcg/ml (PHT), 50-100 mcg/ml (VPA), 4-12 mcg/ml (CBZ); Subterapetik: <10 mcg/ml (PHT), <50 mcg/ml (VPA), 20 mcg/ml (PHT), >100 mcg/ml (VPA), >12 mcg/ml (CBZ); tidak terdeteksi (zero): o,1 mcg/ml untuk semua obat.
Hasil: terdapat 18 wanita dan 17 pria dengan rentang usia 6 hingga 51 tahun, dengan berbagai tipe serangan. Pada pasien, 36% menjalani monoterapi, dan 64% menggunakan dua atau lebih obat antiepilepsi. Kadar normal ditemukan pada 21 pasien (47%), kadar subterapetik pada 24 pasien (53%), kadar toksik pada 10 pasien (22%), dan tidak terdeteksi pada 2 pasien (4%). Toksisitas PHT bermanifestasi sebagai ataksia serebelar pada 3 pasien, anemia megaloblastik akibat defisiensi folat dan osteomalasia akibat defisiensi vitamin D ditemukan pada 2 pasien. Pasien membaik setelah dosis PHT diturunkan.
Kesimpulan: Metode Rapid HPLC untuk TDM efektif secara biaya. Metode ini mampu mengidentifikasi toksisitas antiepilepsi pada seperlima, dan non-compliance pada 4% peserta kamp epilepsi, yang mendapatkan obat-obatan gratis.
–
Suplementasi asam folat untuk epilepsi – Sebuah review sistematik.
Lakhsmi narasimhan Ranganathan, Sridharan Ramaratnam
Tujuan: Untuk menelai apakah penggunaan asam folat pada pasien epilepsi meningkatkan kontrol serangan atau mengurangi efek samping obat antiepilepsi atau meningkatkan kualitas hidup (QOL).
Metode: kami mencari Medline pada OVID dari tahun1966 hingga 2003, Register percobaan grup epilepsi The Cochrane, The Cochrane Library Issue 3, 2004, dan referensi silang dari penelitian yang teridentifikasi. Kriteria pemilihan adalah randomized atau quasirandomized untuk mencari tahu efek asam folat yang diberikan sendiri maupun sebagai kombinasi pada pasien epilepsi berbagai usia dan kedua gender dengan berbagai jenis epilepsi.
Hasil: duabelas penelitian dengan 359 subyek memenuhi kriteria. Semuanya memiliki metode yang lemah, metode randomization tidak disampaikan dan menggunakan jumlah subyek yang sangat sedikit. Diantara 9 penelitian menganalisa 331 subyek, hanya 2 penelitian yang memiliki data pada penurunan 50% frekuensi serangan. Penelitian lain juga melaporkan tidak ada perubahan bermakna pada perubahan frekuensi serangan tapi tidak menyebutkan angka pastinya. Tidak terdapat data mengenai QOL pada penelitian manapun dari keduabelas penelitian yang ada.
Perawatan dengan asam folat tidak terkait dengan perubahan apapun secara bermakna pada pengukuran kesehatan gusi. Perawatan dengan asam folat tidak berkaitan dengan terkait dengan perubahan apapun secara bermakna pada kecerdasan, perilaku, kesehatan mental atau kepribadian, atau pada hemoglobin, hematokrit, MCV atau MCHC. Asam folat tidak berkaitan dengan perubahan konsisten apapun pada kadar fenitoin serum atau perbaikan pada kecepatan konduksi motor rata-rata.
Kesimpulan: pada pandangan kekurangan metodologis dan keterbatasan jumlah penelitian individual, kami meneukan tidak ada bukti terpercaya untuk mendukung penggunaan asam folat pada pasien epilepsi, mungkin kecuali pada saat kehamilan.
–
Sindrom hipersensitivitas antikonvulsan pada anak: Laporan dua kasus.
S S Likasitwattanakul, C Pruksachatkunakorn
Latar belakang dan tujuan: obat antiepilepsi dapat menyebabkan beberapa efek samping di kulit. Salah satu yang jarang ditemui namun berpotensi fatal adalah sindrom hipersensitivitas antikonvulsan yang ditandai oleh triad klinis berupa demam, rash, dan keterlibatan berbagai organ. Obat yang sering menjadi penyebab adalah antiepilepsi golongan aromatik. Penemuan dini akan sindrom ini sangat penting.
Metode: Dua anak yang mengalami demam dan ruam kulit dalam 3 minggu setelah mulai menggunakan fenobarbital menjadi subyek laporan ini. Keterlibatan berbagai organ lain ditemukan setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
Hasil: kedua kasus dengan serangan tonik-klonik generalized diberi fenobarbital. Demam dan ruam timbul pada minggu ketida dan kedua pada pasien pertama dan kedua. Fenobarbital dihentikan setelah diketahui kemungkinan diagnosis suatu sindrom hipersensitivitas obat. Ruam kulit mula-mula berupa erupsi makulopapular eritematosa yang segera berubah menjadi toxic epidermal necrolysis pada kedua pasien. Kedua pasien mengalami hepatosplenomegali, tes fungsi hati yang abnormal dan koagulopati selama perjalanan penyakit.
Kesimpulan: sindrom hipersensitivitas antikonvulsan adalah kondisi hipersensitivitas berat yang berpotensi fatal. Dokter harus berhati-hati akan sindrom ini saat memberikan antikonvulsan, terutama dari golongan aromatik. Karena hipersensitivitas silang antar antikonvulsan aromatik, maka benzodiazepines adalah pilihan pengganti untuk mengontrol serangan.
–
Perkembangan bahasa normal pada anak yang terpajan obat antiepilepsi in utero.
SV Thomas, PN Sylaja, A George, N Lukose, PS Sarma
Tujuan: Untuk membandingkan perkembangan bahasa pada anak yang terpajan obat antiepilepsi in utero dengan anak yang sehat.
Metode: Pada penelitian ini, anak yang terpajan antiepilepsi in utero dan berusia 30-36 bulan (Grup 1) dibandingkan dengan anak yang sehat yang sesuai dengan umur dan keadaan sosialekonomi keluarganya, diambil dari lingkungan dan tidak terpajan antiepilepsi in utero (Grup 2). Perkembangan bahasa dinilai dengan tes Reels. ELQ, RLQ, CLQ diturunkan dari rasio usia bahasa respektif terhadap usia kronologis. Kami juga menghubungkan CLQ dengan MODQ dan MEDQ yang dicapai oleh anak di Grup 1 pada usia 12 bulan. MODQ dan MEDQ diturunkan dari adaptasi India dari Bailey Infant Developmental Scale.
Hasil: Terdapat 75 anak (laki-laki 37) di grup 1 dan 130 anak (laki-laki 57) di grup 2. pajanan antiepilepsi di Grup 1 meliputi fenobarbital (28), fenitoin (18), carbamazepine (41), valproat (14), dan lainnya (7). Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik pada nilai rata-rata ± SD untuk grup 1 saat dibandingkan dengan grup 2 dengan patokan CLQ, ELQ, dan RLQ. Terdapat 18 anak dalam kohort ini yang memiliki MEDQ rendah kurang dari 1/25 sentil pada usia 12 bulan. Hanya 4 diantaranya yang memiliki CLQ < 1/25 sentil.
Kesimpulan: Perkembangan bahasa anak yang terpajan antiepilepsi in utero dapat disamakan dengan anak sehat. Tiga perempat anak yang memiliki MEDQ rendah pada usia 12 bulan akan segera menyusul perkembangan bahasa seperti anak yang sehat.
–
Tanda klinis melateralisasi asal serangan lobus temporal.
Yushi Inoue, Tadahiro Mihara
Tujuan: Untuk mencari tanda klinis yang membantu lateralisasi asal serangan, kami mereview EEG intrakranial/videotelemetri dari pasien epilepsi lobus temporal (TLE).
Metode: Korelasi klinis EEG intrakranial dengan elektroda subduaral dan intraserebral dianalisa dari 199 serangan parsial kompleks (CPS) dari 55 pasien TLE yang kemudian difollow up hingga 10 tahun pascabedah. Hasil akhir serangan dinilai dari rekam medis dengan mengisi kuesioner.
Hasil: terdapat 33 pria dan 22 wanita. Nilai tengah awitan serangan adalah 12 tahun, usia pembedahan 26,7 tahun, dan usia sekarang 41,6 tahun.
Ada 39 pasien dengan CPS yang berasal dari satu sisi (unilateral TLE) dan 16 pasien dengan bilateral TLE. Peningkatan tonisitas lebih sering ditemui pada TLE dengan fokus sisi kiri (tes Fisher: p<0,05), sedangkan perilaku hiperaktif selama serangan lebih sering pada TLE dengan fokus sisi kanan atau non dominan.
Ictal discharges menyebar ke sisi kontralateral (bilateral CPS) pada 21 pasien dengan TLE unilateral, menetap di satu hemisfer (unilateral CPS) pada 11 pasien dengan unilateral TLE, dan keterlibatan kontralateral minimum pada 7 pasien dengan unilateral TLE, sedangkan semua TLE bilateral menunjukkan bilateral CPS (p90% pasien bebas serangan. Pasien yang terseleksi dengan baik berpengaruh pada hasil akhir yang baik. Kesadaran masyarakat atas keberhasilan pembedahan untuk epilepsi juga penting.
–
translated by yoseph samodra
Tags: epilepsi, jurnal, kejang, neurologi, penyakit, terjemahan
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.