Tanda Gejala Psikiatri – Persepsi
Persepsi: Proses mengubah stimulus fisk menjadi informasi psikologis.
1. Gangguan persepsi
a. Halusinasi: persepsi sensori palsu yang tanpa adanya stimuli eksternal yang nyata
1) Halusinasi hipnagogik: halusinasi yang timbul sesaat sebelum tidur; secara umum tidak dianggap sebagai suatu gangguan.
2) Halusinasi hipnopompik: halusinasi yang timbul sesaat setelah bangun tidur, secara umum tidak dianggap sebagai suatu gangguan.
3) Halusinasi auditorik: persepsi palsu tentang bunyi, seringkali berupa suara manusia.
4) Halusinasi visual: persepsi palsu yang melibatkan penglihatan obyek yang berbentuk (misalnya manusia) maupun obyek tak berbentuk (misalnya kilatan cahaya).
5) Halusinasi olfaktorius: persepsi palsu tentang penciuman bau.
6) Halusinasi gustatorius: persepsi palsu tentang pengecapan rasa.
7) Halusinasi taktil (haptik): persepsi palsu tentang sentuhan atau perabaan.
8) Halusinasi somatik: sensasi palsu tentang hal-hal yang terjadi pada tubuh.
9) Halusinasi liliputian: persepsi palsu dimana obyek-obyek tampak lebih kecil, disebut juga mikropsia.
10) Halusinasi kongruen-mood: halusinasi yang isinya sesuai dengan mood (contoh: pasien depresi mendengar suara yang mengatakan dirinya tidak berguna).
11) Halusinasi inkongruen-mood: halusinasi yang isinya tidak sesuai dengan mood (contoh: pasien depresi mendengar suara yang mengatakan dirinya adalah orang yang hebat).
12) Halusinosis: halusinasi, terutama auditorik, yang terkait dengan penyalahgunaan alkohol dan timbul selama kesadaran jernih, berlawanan dengan delirium tremens, dimana halusinasi timbul saat kesadaran berkabut.
13) Sinestesia: sensasi atau halusinasi yang disebabkan oleh sensasi lain (misalnya kejadian visual dialami sebagai sesuatu yang terdengar).
14) Fenomena trailing: abnormalitas perseptual yang berkaitan dengan obat-obatan halusinogenik dimana obyek bergerak tampak sebagai obyek-obyek berbeda.
15) Halusinasi perintah: persepsi yang salah tentang suatu perintah yang sulit ditolak.
b. Ilusi: persepsi yang salah atau interpretasi yang salah dari suatu stimuli eksternal yang nyata.
2. Gangguan terkait dengan gangguan kognitif dan kondisi medis
a. Agnosia: ketidakmampuan mengenali dan mengartikan kepentingan dari suatu gambaran sensori.
b. Anosognosia: ketidakmampuan pasien untuk mengenali adanya defisit neurologis pada dirinya.
c. Somatopagnosia: ketidakmampuan pasien untuk mengenali bagian tubuhnya (disebut juga autotopagnosia).
d. Agnosia visual: ketidakmampuan mengenali obyek atau orang lain.
e. Astereognosis: ketidakmampuan mengenali obyek melalui perabaan.
f. Prosopagnosia: ketidakmampuan mengenali wajah.
g. Apraksia: ketidakmampuan melaksanakan tugas tertentu.
h. Simultagnosia: ketidakmampuan memahami lebih dari satu elemen visual dalam satu saat atau ketidakmampuan menggabungkan bagian-bagian menjadi suatu gambaran keseluruhan.
i. Adiadochokinesia: ketidakmampuan untuk melakukan perubahan gerak dengan cepat.
j. Aura: sensasi peringatan seperti automatisme, rasa penuh di perut, merona merah, dan perubahan pada respirasi, sensasi kognitif, dan keadaan afektif yang dialami sebelum serangan kejang.
3. Gangguan terkait konversi dan fenomena disosiatif: somatisasi dari hal-hal yang direpresi atau perkembangan gejala fisik dan distorsi yang melibatkan otot voluntir atau organ tertentu; tidak di bawah kontrol voluntir dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan fisik lain.
a. Anestesia histerikal: hilangnya modalitas sensori akibat konflik emosional.
b. Makropsia: keadaan dimana obyek tampak lebih besar dari ukuran sebenarnya.
c. Mikropsia: keadaan dimana obyek tampak lebih kecil dari ukuran sebenarnya.
d. Depersonalisasi: perasaan subyektif pasien yang merasa tidak nyata, asing, atau aneh.
e. Derealisasi: perasaan subyektif pasien yang merasa lingkungannya aneh atau tidak nyata.
f. Fugue: mengambil identitas baru dengan amnesia tentang identitas lama; sering melibatkan perpindahan tempat atau lingkungan.
g. Kepribadian multiple: satu pasien yang tampak pada waktu yang berbeda sebagai dua atau lebih kepribadian dan karakter yang berbeda.
h. Disosiasi: mekanisme pertahanan diri yang tidak disadari yang melibatkan pemisahan sebagian proses mental atau perilaku dari aktivitas fisik pasien.
(translated by yoseph leonardo samodra /Pocket Handbook of Clinical Psychiatry)
Tags: gangguan persepsi, mental health
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
November 4, 2009 at 1:24 am
[...] dan Pediatri: Kecerdasan Memori Bicara Pikiran Persepsi Disleksia Istilah Adiksi [...]