Demografi
Usia lanjut dianggap mulai usia 65. Terbagi atas lansia muda 65-74 tahun, lansia tua 75-84 tahun, lansia sangat tua 85 tahun atau lebih. Usia harapan hidup di AS mencapai 80 tahun, dengan rata-rata 74 tahun untuk pria dan 81 tahun untuk wanita. Orang dengan usia 85 tahun atau lebih merupakan 10% dari lansia dan merupakan segmen yang paling cepat pertumbuhannya.
Kognisi
Sering dijumpai kehilangan memori ringan. Tidak ditemukan penurunan IQ. Pasien status sosioekonomi rendah beresiko lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif. Penurunan kognitif berlangsung lambat pada mereka yang terus-menerus belajar dan terstimulasi.
Penyakit medis
Lima penyebab utama kematian pada lansia adalah penyakit jantung, kanker, stroke, penyakit Alzheimer, dan pneumonia. Inkontinensia urin kira-kira timbul pada seperlima lansia, umumnya berkaitan dengan demensia. Penyakit-penyakit ini memicu perubahan perilaku. Artritis, misalnya, akan menghambat aktivitas sehari-hari dan merubah gaya hidup. Lansia merasa sangat terganggu dengan masalah perkemihan dan akan mengurangi aktivitasnya serta menyembunyikan atau menyangkal masalah mereka untuk memertahankan harga diri.
Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab yang terutama dari angka kesakitan dan kematian pada lansia. Hipertensi mengenai sekitar 40% lansia, yang memeroleh pengobatan diuretik dan antihipertensi. Hipertensi dapat menyerang SSP (sistem saraf pusat) dengan akibat mulai dari sakit kepala hingga stroke, dan obat yang digunakan dapat mengganggu fungsi kognitif dan mood. Aterosklerosis, terkait dengan penyakit kardiovaskuler dan hipertensi, telah dihubungkan dengan ditemukannya bentuk mayor dari demensia.
Perubahan sensori juga menyertai pertambahan usia. Sepertiga lansia menderita gangguan pendengaran. Pada suatu penelitian, sekitar setengah orang berusia 75-85 tahun menderita katarak, dan lebih dari 70% menderita glaukoma. Gangguan konvergensi, akomodasi, dan degenerasi makuler adalah penyebab lain gangguan penglihatan pada lansia. Perubahan sensori ini sering berinteraksi dengan masalah psikopatologis, memperberat defisit psikopatologis.
Penyakit psikiatris
Gangguan yang paling banyak diderita adalah gangguan depresi, demensia, fobia, dan gangguan terkait penggunaan alkohol. Lansia dengan usia di atas 75 tahun juga beresiko tinggi melakukan bunuh diri. Banyak gangguan mental pada lansia dapat dicegah, diperbaiki, bahkan dipulihkan.
Gangguan demensia
Faktor resiko demensia yang sudah diketahui adalah usia, riwayat keluarga, dan jenis kelamin wanita. Perubahan khas pada demensia terjadi pada kognisi, memori, bahasa, dan kemampuan visuospasial, tapi gangguan perilaku juga sering ditemui, termasuk agitasi, restlessness, wandering, kemarahan, kekerasan, suka berteriak, impulsif, gangguan tidur, dan waham. Waham dan halusinasi timbul pada perjalanan penyakit demensia pada sekitar 75% pasien. Sekitar 10-15% pasien yang menunjukkan gejala demensia kemungkinan masih dapat disembuhkan.
Demensia tipe Alzheimer
Diagnosis, tanda dan gejala. Adalah jenis yang paling banyak dijumpai dari kasus demensia. Lebih banyak menyerang wanita daripada pria. Memori akan terganggu, dan setidaknya terdapat satu dari gejala-gejala berikut: afasia, agnosia, apraksia, dan gangguan fungsi menjalankan perintah. Defek neurologis (misalnya gangguan cara berjalan, afasia, apraksia, agnosia) dapat timbul. Sekitar 50% pasien dengan penyakit Alzheimer menunjukkan gejala psikotik.
Penanganan. Tidak diketahui pencegahan ataupun penyembuhannya. Terapi yang diberikan hanya paliatif (memperbaiki mutu hidup). Beberapa pasien dengan demensia tipe Alzheimer menunjukkan perbaikan pada penilaian kognitif dan fungsional saat diobati dengan donepezil (Aricept). Juga bisa digunakan memantine (Namenda). Psikosis dari tipe Alzheimer diobati secara farmakologis.
Demensia vaskuler. Jenis terbanyak kedua. Memiliki gejala dan tanda neurologik fokal. Juga memiliki onset yang mendadak, serta perjalanan penyakit yang memburuk dengan bertahap.
Gangguan depresi
Terjadi pada 15% dari seluruh lansia pada suatu komunitas dan pasien rawat jalan. Tanda dan gejala yang sering muncul pada gangguan depresif adalah menurunnya konsentrasi dan fisik, gangguan tidur (khususnya bangun pagi terlalu cepat dan sering terbangun [multiple awakenings]), nafsu makan menurun, penurunan berat badan, dan masalah-masalah pada tubuh. Menurunnya kemampuan berpikir pada penderita lanjut usia yang mengalami depresi berhubungan dengan sindrom demensia pada depresi (dementia syndrome of depression [pseudodementia]), yang dapat disalahartikan sebagai demensia yang sebenarnya. Pseudodemensia terjadi pada 15% penderita depresi lansia dan 25 – 50% pada pederita dementia mengalami depresi.
A. Gangguan bipolar I
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Biasanya mulai pada usia pertengahan. Adanya kecenderungan untuk mengalami rekurensi, jadi penderita dengan riwayat gangguan bipolar I dapat menunjukkan episode manik di kemudian hari. Tanda dan gejala pada orang yang lebih tua hampir sama dengan dengan tanda dan gejala pada dewasa muda, dan termasuk keadaan yang meninggi, meluap-luap atau mood yang mudah marah (irritable mood); keinginan untuk tidur yang menurun; pemikiran yang kacau (distractibility); impulsivity; dan sering mengkonsumsi alkohol berlebihan. Sikap bermusuhan dan paranoid sering muncul.
2. Pengobatan. Litium (Eskalith) merupakan pengobatan pilihan untuk gejala mania, tetapi perlu pengawasan untuk penderita yang lebih tua karena proses reduksi obat di ginjal dapat menyebabkan sifat racun atau toksisitas dari litium meningkat. Efek neurotoksik sering muncul pada penderita yang lebih tua daripada penderita dewasa muda.
B. Skizofrenia
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Psikopatologi berkurang sesuai usia pasien. Tanda dan gejala, termasuk emosi yang tumpul, penarikan diri dari kehidupan sosial, tingkah laku yang esentrik, dan pemikiran yang tidak logis. Delusi (waham) dan halusinasi jarang muncul.
2. Epidemiologi. Biasanya mulai pada masa remaja lanjut atau dewasa muda dan berlangsung seumur hidup. Wanita lebih sering mengalami serangan skizofrenia yang terlambat (late onset of schizophrenia) daripada pria. Sekitar 20% orang dengan skizofrenia tdak menunjukkan gejala aktif sampai usia 65 tahun.
3. Pengobatan. Lansia dengan gejala skizofrenia berespon baik terhadap obat antipsikotik. Pengobatan sebaiknya lebih terencana, dan dosis yang lebih rendah dari dosis biasanya lebih efektif pada penderita lansia.
C. Gangguan waham
1. Diagnosis, tanda,dan gejala. Dapat terjadi pada tekanan fisik atau tekanan mental dan kemungkinan dapat dipercepat oleh kematian pasangan hidupnya, kehilangan pekerjaan, masa pensiun, penyakit yang berat atau riwayat operasi, penglihatan yang berkurang, dan ketulian.
2. Epidemiologi. Biasanya muncul diantara usia 40 dan 55 tahun. Waham dapat dilihat dalam pelbagai bentuk, yang paling sering muncul adalah perasaan disiksa, dimana penderita percaya bahwa dirinya diawasi, diikuti, dan diracuni.
3. Etiologi. Mungkin akibat dari pengobatan yang diresepkan atau tanda-tanda awal dari tumor otak.
D. Gangguan kecemasan. Termasuk gangguan panik, ketakutan (fobia), gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kecemasan yang menyeluruh, gangguan stres akut, dan gangguan stres pasca trauma.
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Tanda dan gejala ketakutan (fobia) pada lansia tidak seberat daripada yang lebih muda, tetapi efeknya sama. Obsesi dan kompulsi dapat muncul pertama kali pada lansia, walaupun lansia dengan gangguan obsesif-kompulsif sering menunjukkan gangguannya (seperti merasa lebih tua, menginginkan segalanya sempurna, tepat waktu, pelit) pada saat mereka muda. Ketika gejala tersebut muncul, penderita menjadi berlebihan terhadap kerapian atau ketertiban, ibadah, dan persamaan.
2. Epidemiologi. Gangguan kecemasan mulai muncul pada masa remaja awal atau pertengahan, tetapi beberapa dapat muncul pertama kali setelah usia 60 tahun. Gangguan yang sering muncul adalah ketakutan (fobia) (4 – 8%).
3. Pengobatan. Pengobatan harus disesuaikan dengan penderita dan harus diperhitungkan pengaruh biopsikososial yang menghasilkan gangguan. Farmakoterapi dan psikoterapi dibutuhkan.
[visit http://cecepcakep.tk]
E. Gangguan somatoform
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Ditunjukkan oleh gejala fisik yang mirip dengan penyakit-penyakit medis, yang sesuai dengan psikiatri geriatri karena keluhan-keluhan pada tubuh sering muncul diantara para lansia.
2. Epidemiologi. Lebih dari 80% orang berusia lebih dari 65 tahun mempunyai satu penyakit kronik, biasanya artritis atau penyakit kardiovaskular. Hipokondriasis sering muncul pada orang berusia lebih dari 60 tahun, walaupun puncak insiden pada kelompok usia 40 – 50 tahun.
3. Pengobatan. Kelainan biasanya kronik dan prognosis jelek. Melakukan latihan fisik berulang-ulang membantu menyakinkan penderita bahwa mereka tidak mempunyai penyakit yang mematikan, tetapi prosedur diagnostik yang berisiko tinggi sebaiknya dihindari kecuali sudah terindikasi secara medis.
[visit http://cecepcakep.tk]
F. Penyalahgunaan alkohol dan substansi lain
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Lansia dengan ketergantungan alkohol biasanya mempunyai riwayat mengonsumsi alkohol berlebihan yang dimulai pada masa awal dan pertengahan dewasa. Mereka biasanya menderita sakit, awalnya dengan penyakit hati, dan juga demikian pada pasangan yang bercerai, duda atau janda atau mereka yang tidak menikah. Gambaran klinik dari penderita penyalahgunaan alkohol dan substansi lain bermacam-macam, seperti kebingungan, kebersihan diri yang buruk, depresi, dan malnutrisi. Keluhan pada saluran pencernaan yang tidak dapat dijelaskan, kejiwaaan dan kelainan metabolik sebaiknya menjadi tanda bagi tenaga medis untuk melawan penyalahgunaan substansi tersebut.
2. Epidemiologi. Sekitar 20% pasien rawat jalan ketergantungan terhadap alkohol. Penyalahgunaan alkohol dan substansi lain sekitar 10% dari semua masalah emosional pada orang-orang tua, dan ketergantungan substansi-substansi, seperti hipnotik, ansiolitik, dan narkotik lebih sering pada usia tua.
[visit http://manadocity.blogspot.com]
G. Gangguan tidur
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Sebagai akibat dari pendeknya siklus bangun-tidur harian, orang-orang tua tanpa kegiatan rutin, khususnya pasien rawat jalan, akan mengalami fase lanjut, dimana mereka akan pergi tidur lebih awal dan bangun pada malam hari.
2. Epidemiologi. Gangguan tidur, mengantuk di siang hari, tidur di siang hari, dan penggunaan obat-obat hipnotik dilaporkan lebih sering terjadi pada lansia daripada orang dewasa yang lebih muda. Diantara gangguan tidur awal, dissomnia yang sering terjadi, khususnya insomnia awal, mioklonus nokturnal, sindrom kaki tanpa lelah (restless leg syndrome), dan apnu pada saat tidur.
3. Etiologi. Buruknya kualitas tidur pada orang-orang tua berhubungan dengan berubahnya waktu tidur dan pengabungan (konsolidasi) tidur. Penyebab gangguan tidur pada orang-orang tua termasuk gangguan tidur awal, gangguan mental, gangguan kesehatan umum, dan faktor lingkungan sosial. Pemakaian alkohol dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur dan dapat menyebabkan tidur sering terbangun (fragmentation sleep) dan bangun pagi terlalu cepat.
H. Risiko bunuh diri
1. Diagnosis, tanda, dan gejala. Penderita-penderita yang berumur tua yang menderita suatu penyakit atau baru saja mengalami kehilangan sebaiknya dievaluasi keadaan-keadaan depresif dan ide-ide untuk bunuh diri.
2. Epidemiologi. Orang-orang tua berisiko tinggi untuk bunuh diri daripada kelompok umur lainnya. Tingkat bunuh diri pada orang kulit putih yang berusia lebih dari 65 tahun lima kali lebih tinggi daripada populasi yang lainnya. Sepertiga dari lansia melaporkan bahwa kesepian dan kesendirian merupakan alasan dasar untuk bunuh diri. Kira-kira 10% dari lansia dengan ide-ide untuk bunuh diri melaporkan bahwa masalah keuangan, kesehatan yang buruk atau depresi merupakan alasan timbulnya pemikiran untuk bunuh diri. Sekitar 70% percobaan bunuh diri dilakukan dengan cara meminum obat-obatan sampai overdosis dan 20% dengan cara mengiris atau melukai tubuh mereka.
I. Kondisi lain pada lansia
1. Vertigo. Vertigo atau perasaan pusing, keluhan utama dari lansia, menyebabkan banyak orang dewasa yang lebih tua menjadi tidak aktif karena mereka takut jatuh. Banyak penyebab dari vertigo, termasuk anemia, hipotensi, aritmia jantung, penyakit jantung, insufisiensi arteri basiler, penyakit pada telinga tengah, neuroma akustik, dan penyakit Meniere. Pemakaian ansiolitik berlebihan dapat menyebabkan pusing dan mengantuk di siang hari. Pengobatan dengan meclizine (Antivert) 25–100 mg per hari memberikan hasil yang memuaskan pada penderita vertigo.
2. Sinkop. Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba dihubungkan dengan sinkop, akibat penurunan aliran darah otak dan hipoksia otak. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengesampingkan penyebab-penyebab lain.
3. Kehilangan pendengaran. Sekitar 30% orang berusia lebih dari 65 tahun mengalami kehilangan pendengaran yang berarti (presbikusis). Sesudah usia 65 tahun keadaan tersebut meningkat menjadi 50%. Penyebabnya banyak. Tenaga medis sebaiknya lebih sensitif terhadap penderita yang mengalami kehilangan pendengaran yang mengeluhkan bahwa mereka dapat mendengar, tetapi tidak dapat mengerti apa yang sedang dibicarakan atau yang bertanya harus mengulang pertanyaannya. Kebanyakan penderita dengan kehilangan pendengaran dapat diobati dengan alat bantu pendengaran.
4. Kehilangan pasangan hidup. Data demografi memperkirakan bahwa 51% wanita dan 14% pria berusia lebih dari 65 tahun akan menjadi janda atau duda, paling tidak sekali. Kehilangan pasangan hidup merupakan pengalaman yang paling menyedihkan selama hidup mereka. Orang-orang tua yang kehilangan pasangan hidup dan cenderung melakukan bunuh diri begitu juga jika disertai dengan penyakit psikiatrik.
VIII. Psikoterapi pada lansia
Proses kejiwaan dasar pada orang-orang tua tidak jauh berbeda dengan orang yang lebih muda. Bagaimanapun, proses penuaan dan perubahan patologi mengakibatkan persoalan-persoalan kejiwaan yang berhubungan erat dengan kelompok umur ini. Persoalan-persoalan yang lazim dihadapi pada pengobatan adalah keterlibatan dan berubahnya hubungan antara orang-orang tua dengan anak-anak mereka yang sudah remaja. Sebagai contoh, pada saat sakit, lansia meinginkan kebebasan dan di saat bersamaan yang berhubungan dengan konteks sosial, pengharapan yang tidak masuk akal yang dipaksakan kepada anak-anak mereka. Terapi keluarga, sebagai akibatnya dapat menjadi nilai lebih pada orang-orang tua, kadang-kadang bersama dengan psikoterapi kelompok atau individu. Tujuan lain dari pengobatan individu khususnya untuk orang-orang tua termasuk memelihara harga diri, perkawinan, dan perubahan status sosial; pemanfaatan waktu luang yang tidak biasanya; dan kebebasan dalam menentukan pilihan. Umumnya, psikoterapi pada orang-orang tua disesuaikan dengan situasi dan masalah yang muncul dan mencari pemecahannya dengan cara membentuk kerangka kepribadian daripada merubah kepribadian secara menyeluruh. Banyak orang-orang tua menanggapi dengan positif atas perubahan menyeluruh dan keadaan yang menyedihkan (misalnya, kesehatan yang menurun, kehilangan pasangan).
Sikap khusus diperlukan pada psikoterapi demensia. Pada suatu fenomena yang disebut retrogenesis, yang terjadi pada demensia Alzheimer dan lebih luas pada keadaan-keadaan penuaan, kemampuan kognitif, fungsional, psikologis penderita berubah dari pola perkembangan manusia normal. Sebagai akibatnya, setiap derajat fungsional dari penyakit Alzheimer dapat digambarkan sama dengan perkembangan pada masa kanak-kanak. Usia perkembangan penderita Alzheimer memberikan pengertian yang cepat terhadap manajemen penanganan dan perawatan yang dibutuhkannya. Selanjutnya, penanganan pada penderita dengan Alzheimer berat (stadium 7) membutuhkan sejumlah perawatan yang kira-kira hampir sama dengan perawatan pada bayi. Sama halnya dengan penderita dengan Alzheimer ringan (stadium 4), mereka seperti anak-anak usia 8 – 12 tahun, hanya membutuhkan pengawasan. Usia perkembangan dari penderita Alzheimer ini berguna untuk memahami kebutuhan emosinal, perubahan tingkah laku, dan kebutuhan jasmani mereka.
translated by Yoseph Leonardo Samodra
Komentar Terakhir